Jumat, 12 Juni 2015

Aspek-Aspek Perkembangan



BAB I
PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang
Problema anak lahir dari ketidak pahaman kita sebagai orangtua. Sering orangtua melihat anaknya diam, dan sekedar meneteskan air mata, di saat lingkungannya kurang ramah, kurang hangat, atau tidak nyaman. Sekiranya kita berempati dan dapat menghayati dunamika kehidupan psikisnya, kita akan menyesal karena telah memperlakukan anak secara tidak benar.
Ada satu ilustrasi yang menggambarkan betapa perlunya orangtua, guru dan siapa pun yang berkiprah dalama bidang pendidikan dan perawatan anak, memahami tugas dan perkembangan anak. Demikianlah dengan memahami psikologi perkembangan, orangtua, guru dan para perawat akan dapat melihat bahwa pertumbuha psikis yang akan membawa anak kearah dewasa.
Beberapa alasan tersebut di ataslah yang mungkin menyebabkan orang-orang tertarik untuk mempelajari psikologi perkembangan.Sehingga orangtua dapat memahami anaknya dengan baik.
B.            Rumusan  Masalah
1.    Bagaimana Aspek Perkembangan Bahasa ?
2.    Bagaimana Aspek  Perkembangan Moral ?
3.    Bagaimana Aspek  Perkembangan Kesadaran Beragama ?
C.           Tujuan
1.    Untuk mengetahui Aspek Perkembangan Bahasa.
2.    Untuk mengetahui Aspek  Perkembangan Moral.
3.    Untuk mengetahui Aspek  Perkembangan Kesadaran Beragam


BAB II
PEMBAHASAN

A.           ASPEK PERKEMBANGAN BAHASA
1.    Makna Bahasa
Bahasa merupakan kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Dalam pengertian ini, tercakup semua cara untuk berkomunikasi, dimana pikiran dan perasan dinyatakan dalam bentuk lambang atau simbol untuk mengungkapkan sesuatu pengertian, seperti dengan menggunakan lisan, tulisan, isyarat, bilangan, lukisan, dan mimik muka.
Bahasa merupakan anugrah dari allah SWT, yang dengannya manusia dapat mengenal atau memahami dirinya, sesame manusia, alam, dannnpenciptanya serta mampu memposisiikan dirinya sebagai makhluk berbudaya dan mengembangkan budayanya.
Seorang bayi mungkin pada usia 10 bulan bisa mengucapkan satu-dua kata, mungkin bayi yang lain pada saat usia 18 bulan baru bisa mengucapkannya, tetapi semua itu masih termasuk tinggkat perkembangan normal.  Perkembangan fikiran dimulai pada usia 1,6- 2,0 tahun , yaitu pada saat anak dapat menyusun kalimat dua atau tiga kata. Laju perkembangan itu sebagai berikut:
1)             Usia 1,6 tahun, anak dapat menyusun pendapat positif, seperti: “bapak makan”
2)             Usia 2,6 tahun, anak dapat menyusun pendapat negatif (menyangkal), seperti “bapak tidak makan”.
3)             Pada usia selanjutnya, anak dapat menyusun pendapat :
a).     Kritikan : “ini tidak boleh, ini tidak baik”.
b).     Keragu-raguan: barangkali, mungkin, bias jadi. Ini terjadi apabila anak  sudah menyadariakan kemungkinan kekhilafannya.
c).     Menarik kesimpulan analogi seperti: anak melihat, ayah nyatidur ketika sakit. Pada waktu lain anak melihat ibunya tidur, dia mengatakan bahwa ibu tidur karena sakit.




Szanto bahasa, sebagaimana kemampuan yang lain, tidak bisa terlepas dari kehidupan manusia. Hampir tidak mungkin untuk menghentikan anak agar tidak belajar. Bahasa merupakan alat yang digunakan anak untuk berkomunikasi dan berfikir pada masa awal pertumbuhannya.[1]
Perkembangan bahasa alam diri anak sudah dimulai sejak bayi belum lahir. Jauh sebelum kata-kata digunakan, bayi dan anak-anak berkomunikasi melalui ekspresi muka, gerakan tubuh dan tangisan.
Vygotsky dalam santrock mengatakan bahwa perkembangan bahasa anak sayat dipengaruhi oleh budaya dan lingkungan osial sekitar anak.[2] Perkembangan bahasa juga berhubungan dengan perkembangan pemikiran anak. Menurut pieget dalam Tina Bruce bahwa pieget menekankan anak-anak belajar untuk berfikir melalui berbagai fariasi, simbolik, pengalaman, gagasan, hubungan dan perasaan.[3]
Hurlock selama tahun pertama dan temnngah tahun kedua pascalahir, sebelum anak mempelajari kata-kata yang cukup untuk digunakan sebagai bentuk komunikasi, mereka menggunakan empat bentuk komunikasi prabicara, yakni: tangisan, bunyi yang meledak yang segera berkembang menjadi celoteh, isyarat dan ekspresi emosional.[4]

2.    Tugas-Tugas Pekembangan Bahasa
Dalam bahasa anak di tuntut untuk menuntaskan atau menguasai empat (4) tugas pokok yang satu sama lainnya saling berkaitan. Apabila anak berhasil menuntaskan tugas yang satu, maka berarti juga iia dapat menuntaskann tugas –tugas yang lainnya. Keempat tugas itu adalah sebagai berikut:
a.              Pemahaman, yaitu kemampuan memahami makna ucapan orang lain, bukan memahami kata-kata yang diucapkan nya. Tetapi dengan memahami kegiatan/ gerakan atau bahasa tubuhnya.
b.             Perkembangan pembendaharaan kata. Perbendaharaan kata-kata anak berkembang dimulai secara lambat pada usia dua tahun pertama, kemudian mengalami tempo yang cepat pada usia pra-sekolah dan terus meningkat setelah anak masuk sekolah.
c.              Penyusunan kata-kata menjadi kalimat, kemampuan menyusun kaa-kata menjadi kalimat pada umumnya berkembang sebelum usia dua tahun.
d.             Ucapan, Kemampuan mengucap kata-kata merupakan hasil belajar melalui imitasi (penipuan) terhadap suara-suara yang didengar anak, dari orang lain (terutama orang tuanya).
3.    Tipe Perkembangann Bahasa
Ada dua tipe perkembangan bahasa anak, yaitu sebagai berikut:
1)             Egocebnntric speech, yaitu anak berbicara kepada dirinya sendiri (monolog),
2)             Socialized speech, yang terjadi ketika berlanngsung kontrak antara anak dengan temannya atau dengan lingkuungannya. Perkembangan ini terbagi kedalam lima lima bentuk:
a.    Adapted information, disini terjadi saling tukar gagasn atau adanya tujuan bersama yang dicari.
b.   Critism, yang menyangkut penilaian anak terhadap ucapan atau tingkah laku orang lain
c.    Command (perintah), request(permintan) dan threat(ancaman)
d.   Questions (pertanyaan)
e.    Answere (jawaban).
4.    Factor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa 
Perkembangan bahasa dipengaruhi oleh factor-faktor kesehatan, inteligensi, status social ekonomi, jenis kelamin, dan hubungan keluarga.
1)             Faktor kesehatan. Kesehatan merupakan factor yang sangat mempengaruhi perkembangan bahasa anak, terutama padaa usia awal kehidupan.
2)             Inteligensi. Perkembangan bahasa anak dapat dilihat dari tinkat keecerdasannya. Anak yang perkembangann bahasanya cepat, pada umumnya mempunyai inteligensi normal atau diatas normal.
3)             Status social ekonomi keluarga. Beberapa studi tentang hubungan antara perkembangan bahasa dengan status social ekonomi keluarga menunjukkan bahwa anak yang berasal dari keturunan keluarga miskin mengalami kelambatan dalam perkembangan bahasanya dibandingkan dengan anak yang berasal dari keluarga yang lebih baik.
4)             Jenis kelamin. Pada tahun pertama usia anak, tidak ada perbedaan dalam vokalisasi antara pria dan wanita. Namun mulai usia dua tahun, anak wanita menunjukkan perkembangan yang lebih cepat dari anakk pria.
5)             Hubungan keluarga. Hubungan ini dimaknai sebagai proses pengalaman berinteraksi dan berkomunikasi dengan ligkungan  keluarga, terutama dengan orang tua yang mengajar, melatih, dann meberikan contoh berbahasa kepada anak.
6)             Dorongan
Semakin banyak didorong untuk berbicara dengan mengajaknya berbicara dan didorong menanggapinya akan semakin awal mereka belajar berbicara dan semakin kuat kualitas bicaranya
7)             Ukuran Keluarga
Anak tunggal atau anak dari keluarga kecil biasanya berbicara leboh awal dan lebih baik ketimbang anak dari keluarga besar karena orang tua dapat menyisihkan waktu yang lebih banyak untuk mengajar anaknya berbicara.  
8)             Urutan kelahiran
Anak pertama lebih cepat berbicara dibanding anak yang lahir kemudian.
9)             Metode Pelatihan Anak
Anak yang ditekan lebih lambat daripada anak yang diberikan kebebasan.
10)         Kelahiran Kembar
Anak yang lahir kembar lebih lambat.
11)         Hubungan dengan Teman Sebaya
Dengan mempunyai hubungan yang baik dengan teman sebayanya anak akan lebih banyak motivasi belajar bicaranya.
12)         Kepribadian
Anak yang bisa menyesuaikan diri dengan baik cendrung mempunyai kemampuan bahasa yang lebih baik.

B.            ASPEK PERKEMBANGAN MORAL
1.    Pengertian Moral
Istilah moral berasal dari kata latin “motos”(moris) yang berarti adat istiadat, kebiasaan, peraturan/nilai-nilai atau tatacara kehidupan. Sedangkan moralitas merupakan kemauan untuk menerima dan melakukan peraturan, nilai-nilai atau prinsip-prinsip moral, atau Penyelesaian konflik antara diri dan orang lain, antara hak dan kewajiban.
Nilai-nilai moral itu seperti:
a.              Seruan untuk berbuat baik kepada orang lain, memelihra ketertiban dan keamanan, memelihara  kebersihan dan memelihara hak orang lain,dan
b.             Larangan mencuri, berzina, memmbunuh, meminum minuman keras dan berjudi.
2.    Fator-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Moral
Perkembangan seoramg anak banyak dipengaruhi oleh lingkungannya. Anak memper-oleh nilai-nilai moral dari lingkungannya, terutama dari orangtuanya, dia belajar untuk mengenal nilai-nilai dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai tersebut. Beberapa sifat orangtua yang di perhatikan sehubungan dengan perkembangan moral anak, diantaranya sebagai berikut:
a.              Konsisten dalam mendidik anak
Ayah dan ibu harus memiliki sikap dan perilaku yang sama dalam melarang atau membolehkan tingkah laku tertentu kepada anak.
b.             Sikap orangtua dalam keluarga
Secara tidak langsung, sikap orangtua terhahap anak, siakap ayah terhadap ibu, atau sebaliknya, dapat mempengaruhi perkembangan moral anak, yaitu melalui proses peniruan.
c.              Penghayatan dan pengalaman agama yang di anut.
Orangtua merupakan panutan (teladan) bagi anak, disini panutan dalam mengamal-kan ajaran agama.
d.             Sikap konsisten orangtua dalam menerapkan moral.
Orangtua yang tidak menghendaki anaknya berbohong, atau berlaku tidak jujur, maka mereka harus menjauhkan dirinya dari perilaku berbohong atau tidak jujur.

3.    Proses Perkembangan Moral
Perkembangan moral anak dapat berlangsung melalui beberapa cara, sebagai berikut:
a.              Pendidikan lansung, yaitu melalui penanaman pengertian tentang tingkah laku yang benar dan salah, atau baik dan buruk oleh orangtua, guru atau orang dewasa lainnya.
b.             Identifikasi, yaitu dengan cara mengidentifikasi atau meniru penampilan atau tingkah laku moral seseorang  yang menjadi idolanya (Seperti orangtua, guru, Kiai, artis atau orang dewasa lainnya).
c.              Proses coba-coba (trial dan eror), yaitu dengan cara mengembangkan tingkah lakuh moral secar coba-coba.
Dalam membahas proses perkembangan moral ini, Lawrence Kohlerg (Ronalduska dan Mariellen Whelan, dalam Dwija Atmaka, 1984; abin syamsuddin m., 1999) mengklasifikasiknnya ke dalam tingkat, yaitu sebagai berikut:
1)             Pra konvesional
Pada tahap ini, anak mengenal baik-buruk, benar-salah suatu perbuatan, dari sudut konsekuensi (dampak /akibat) menyenangkan (ganjaran) atau menyakiti (hukuman) secara fisik, atau enak tidaknya akibat perbuatan yang diterimanya.
2)             Konvensional
Pada tingkat ini, aanak memandang perbuatan itu baik atau benar, atau berharga bagi dirinya apabila dapat memenuhi harapan atau persetujuan keluarga, kelompok, atau bangsa. Disini berkembang siakap konvormitas, loyalitas, atau penyesuaian diri terhadap keinginan kelompok, atau aturan sosial masyarakat. 
3)             Pasca Konvensional
Pada tingkat ini ada usaha individu untuk mengartikan nilai-nilai atau prinsip-prinsip moral yang dapat di terapakan atau dilaksanakan terlepas dari otoritas kelompok, pendukung, atau orang yang memegang atau menganut prinsip-prinsip moral tersebut.

C.           ASPEK PERKEMBANGAN KESADARAN BERAGAMA
Salah satu kelebihan manusia sebagai makhluk Allah SWT, adalah dia anugerahi fitrah (perasaaan dan kemampuan) untuk mengenal Allah dan melakukan ajarannya. Dalam kata lain, manusia di karuniai insting religius (naluri beragama) karana memiliki fitrah ini, kemudian manusia dijuluki sebagai “Homodevinans”, dan “Homo religious”, yaitu makhluk yang bertuhan atau beragama.
Jiwa beragama atau kesadaran beragama merujuk kepada aspek rohaniah individu yang berkaitan dengan keimanan kepada Allah yang direfleksikan kedalam peribadatan kepadanya  baik yang bersifat hablumminalloh maupun hablumminannas.
Perkembangan beragama seseorang dipengaruhi oleh factor-faktor pembawaan dan lingkungan.
1.    Faktor Pembawaan (Internal)
Perbedaan hakiki antara manusia dan hewan adalah bahwa manusia mempunyai fitrah (pembawaan) beragama (homoreligious).Setiap manusia yang lahir di dunia ini  baik yang masih primitif bersahaja, maupun yang sudah modern, baik yang lahir dinegara komunis maupun kapitalis; baik yang lahir dari orangtua yang saleh maupun jahat; sejak Nabi Adam sampai akhir zaman menurut fitrah kejadiannya menurut potensi beragama atau keimanan kepada tuhan atau percaya adanya kekuatan diluar dirinya yang mengatur hidup atau kehidupan alam semesta.
Dalam perkembangannya, fitrah beragama ini ada yang berjalan secara ilmiah dan ada juga yang mendapat bimbingan dari para Rasul Allah SWT, sehingga fitrahnya itu bekembang sesuai dengan kehendak Allah SWT.
Keyakinan bahwa manusia itu mempunyai fitrah atau kepercayaan kepada tuhan didasarkan kepada Allah:
a.              Surah al-A’raaf  ayat 172
øŒÎ)ur xs{r& y7/u .`ÏB ûÓÍ_t/ tPyŠ#uä `ÏB óOÏdÍqßgàß öNåktJ­ƒÍhèŒ öNèdypkô­r&ur #n?tã öNÍkŦàÿRr& àMó¡s9r& öNä3În/tÎ/ ( (#qä9$s% 4n?t/ ¡ !$tRôÎgx© ¡ cr& (#qä9qà)s? tPöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# $¯RÎ) $¨Zà2 ô`tã #x»yd tû,Î#Ïÿ»xî ÇÊÐËÈ 
artinya: “ Dan ingatlah ketika tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak adam dari sulbi mereka dan allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) : ‘ bukankah aku ini tuhanmu?’ mereka menjawab: ‘betul (engkau tuhan kami). Kami menjadi saksi. (kami kakukan yang demikian itu) agar dihari kiamat tidak mengatakan, sesungguhnya kami (bani adam) adalah orang orang yang lengah terhadap (keesaaan allah) ini.
b.              Surah Ar-rum ayat 30,
óOÏ%r'sù y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9 $ZÿÏZym 4 |NtôÜÏù «!$# ÓÉL©9$# tsÜsù }¨$¨Z9$# $pköŽn=tæ 4 Ÿw Ÿ@ƒÏö7s? È,ù=yÜÏ9 «!$# 4 šÏ9ºsŒ ÚúïÏe$!$# ÞOÍhŠs)ø9$#  ÆÅ3»s9ur uŽsYò2r& Ĩ$¨Z9$# Ÿw tbqßJn=ôètƒ ÇÌÉÈ  
 yang artinya: “ maka hadapkan wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, (tetaplah atas) fitrah allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubaha pada fitrah allah. Itulah agama lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.
c.              Surah Asy-Syamsu ayat 8,
$ygyJolù;r'sù $yduqègéú $yg1uqø)s?ur ÇÑÈ  
yang artinya : “ Maka allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan (kufur) dan ketakwaan”.
2.    Faktor lingkungan (eksternal)
Factor luar (eksternal) memberikan rangsangan atau stimulus yang memungkinkan fitrah itu berkembang dengan sebaik-baiknya. Factor eksternal itu tidak lain adalah lingkungan dimana individu itu hidup. Lingkungan itu adalah keluarga, sekolah, dan masyarakat.
a.              Lingkungan Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak. Oleh karena itu kedudukan keluarga dalam pengembangan kepribadian anak sangatlah dominan.
Dalam hal ini, orang tua mempunyai peranan yang sangat penting dalam menumbuh kembangkan fitrah beragama anak.
Menurut Hurlock (1956: 434), Keluarga merupakan “training centre” bagi penanaman nilai. Pengembangan fitrah atau jiwa beragama anak segoyianya bersamaan dengan perkembangan kepribadiannya, yaitu sejak lahir bahkan lebih dari itu sejak dalam kandungan. Pandangan ini berdasarkan para ahli jiwa terhadap orang-orang yang mengalami gangguan jiwa; ternyata, mereka itu dipengaruhi oleh keadaan emosi atau sikap orang tua (terutama ibu)pada masa mereka dalam kandungan.
Dalam mengembangkan fitrah beragama anak dalam lingkungan keluarga, disamping upaya yang telah dilakukan diatas, maka ada beberapa hal yang perlu menjadi kepedulian (perhatian) orang tua yaitu sebagai berikut:
1)            karena orang tua merupakan Pembina pribadi yang petama bagi anak, dan tokoh yang di identifikasi atau ditiru anak, seyogianya dia memiliki kepribadia yang baik atau berakhlakul karimah (akhlak yang mulia).
2)            Orangtua hendaknya memperalakukan anaknya dangan baik. Perlakuan yang otoriter (perlakuan yang keras) akan mengakibatkan perkembangan pribadi anak yang kurang diharapkan, begitu pula perlakuan permisif (terlalu member kebebasan) akan mengembangkan pribadi anak yang tidak bertanggung jawab, atau kurang mempedulikan tata nilai yang dijunjung tinggi dalam lingkungan. Sikap dan perlakuaan orang tua yang baik adalah mempunyai karakteristik:
a.    memberikan curahan kasih sayang yang ikhlas
b.    bersikap respek/menghargai pribadi anak
c.    menerima anak sebagai bbiasanya
d.   mau mendengar pandapat/keluhan anak
e.    memaafkan kesalahan anak dan meminta maaf bila ternyata orang tua sendiri salah kepada anak, dan
f.     meluruskan kesalahan anak dengan pertimbangan atau alasan-alasan yang tepat.
3)            Orangtua hendak memelihara hubungan yang harmonis antar anggota keluarga (ayah dengan ibu, orang tua dengan anak, dan anak dengan anak).
4)            Orangtua hendaknya membimbing, mengajarkan atau melatihkan ajaran agama terhadap anak.
b.             Lingkungan Sekolah
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang mempunyai program sistematik dalam melaksanakan bimbingan, pengajaran dan latihan kepada anak (siswa) agar mereka berkembang sesuai dengan potensinya.
Menurut Hurlock (1959: 561) pengaruh sekolah terhadap perkembangan kepribadian anaak sangat besar, Karen sekolah merupakan subtitusi dari orang tua.
Agar dapat melaksanakan tugas, maka guru agama dituntut untuk memiliki karakteristik sebagai berikut:
1)            kepribadian yang mantap (akhlak mulia) seperti jujur, bertanggung jawab, berkomitmen terhadap tugas, disiplin terhadap bejekerja, kreatif, dan respek/menghargai pribadi siswa.
2)            menguasai disiplin ilmu dalam bbidang studi penidikan agama islam. Guru memiliki pemahaman yang memadai tentang bidang studi yang diajarkan, minimal materi-materi yang terkandung dalam kurikulum.
3)            memehami ilmu-ilmu lain yang relavan atau menjunjung kemampuannya dalam mengelola proses belajar-mengajar, seperti psikologi pendidikan, bimbingan dan konseling, metodelogi pengajaran, administrasi pendidikan, tehnik evaluasi dan psikologi agama.
Factor-faktor lain yang menunjang perkembangan fitrah beragamaa siswa adalah :
1.             Kepedulian kepada sekolah, guru-guru dan staf sekolah lainnya terhadap pelaksaan pendidikan agama( penanaman nilai-nilai agama) disekolah, baik melalui pemberian contoh dalam bertutur kata, berprilaku dan berpakaian yang sesuai dengan ajaran agama islam.
2.             Tersediannya sarana ibadah yang memadai dan memfungsikannya secara optimal.
3.             Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurukuler kerohanian bagi para siswa dan ceramah-ceramah atau diskusi keagamaan secara rutin.



c.              Lingkungan Masyarakat
lingkungan masyarakat adalah situasi atau kondisi interaksi sosial dan sosiokultural yang secara potensial berpengaruh terhadap perkembangan fitrah beragama atau kesadaran beragama individu.
Mengenai dominannya pengaruh kelompok teman sepergaulan ini, Hurlock (1956: 436) mengemukakan bahwa “standar atau aturaan-aturan ‘gang’ (kelompok bermain) yang  memberikan pengaruh kepada pandangan moral dan tingkah laku para anggota-nya”. Corak perilaku anak atau remaja merupakan cermin dari corak atau prilaku warga masyarakat (orang dewasa) pada umumnya. Oleh karena itu, disini dapat dikemukakan bahwa kualitas perkembangan kesadaran beragama bagi anak sangat bergantung pada kualitas prilaku atau pribadi orang dewasa atau warga masyarakat.
Yang menjadi masalah dalam kesadaran beragama ini adalah problema keimanan, yaitu masalah proses perkembangan keimanan dan konflik keyakiinan dan situasi kehidupn sosial budaya yang dihadapi (seperti ekonomi, politik, dan hubungan sosial).
1.             Proses perkembangan keimanan.
Manusia diciptakan dengan membawa dua potensi atau disposisi yang sama-sama berkembang. Dua potensi ini tersusun ini tercantum dalam al-Qur’an surah asy-syams, ayat 8-10, yang artinyan “makaa allah mengilhamkan kepada jiwa itu ‘fujur’ dan ‘taqwa’, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya itu denagn takwa, dan merugilah orang mengotorinya dengan fujur.“fujur” merupakan potensi yang mendorong individu yang berkembang menjadi kafir, fasik, musrik, munafik, atau jahat. Sedangkan “takwa” merupaka posisi yang mendorong individu untuk berkembang menjadi mukmin, muslim.
2.             Konplik keyakinan dengan situasi kehidupan sosial.
Masalah besar yang terjadi dalam kehidupan adalah munculnya berbagai kondisi yang bertentangan dengan nilai nilai keimanan atau aagama yang dianut. Kondisi lingkungan yang memiliki daya tarik bagi remaja tetapi bertentangan dengan norma agama itu. Diantarannya minuman keras, ganja/narkotika dan zat adiktif lainnya, model pakaian, kehidupan malam, dan pemakaian alat kontrasepsi. Kondisi tersebut menjadi pemicu merebaknya penyimpangan yang menyebabkan dekadensi moral dikalangan remaja, seperti free sex, mabuk, perkelahian masal, berpakaian yang tidak senonoh an terjadinya tindak kriminal.
Secara umum kriteria kematangan dalam kehidupan beragama itu adalah sebagai berikut:
a)    memiliki kesadaran bahwa setiap prilaku (yang tampak maupun tersembunyi) tidak terlepasdari pangawasan allah. Kesadaran ini terefleksi dalam sikap dan prilakunya yang jujur, amanah, istiqomah dan merasa malu untuk berbuat yang melanggar aturan allah.
b)   Mengamalkan ibadah ritual secara ikhlas dan maampu mengambil hikmah dari ibadah tersebut dalam kaitannya dengan kehidupan sehari-hari
c)    Memiliki penerimaan dan pemahaman secara positif akan irama/romantika kehidupan yang ditetapkan allah.
d)   Bersyukur pada saat mendapatkan anugrah baik dengan ucapan (membaca hamdalah) maupun perbuatan (mengeluarkan zakat atau ibadah).
e)    Bersabar ketika mendapat musibah.  Bagi orang yang yang talah matang sikap keagamaanya tatkala ia mendapatkan musibah, akan menyadari bahwa hal itu merupakan ujian dari allah yang akan meningkatkan nilai keimanannya.
f)    Menjalin dan memperkokoh tali persaudaraan dengan muslim yang lainnya  dan tanpa melihat latar belakang agama , suku, ras, maupun stasus sosial ekonominya.
g)   Senantiasa menegakkan “amar ma’ruf dan nahyi munkar”, mempunyai ruhul jihad fisabilillah, menebarkan mutiara nilai-nilai islam dan mencegah atau memberantas kemusyrikan kekufuran, dan kemaksiatan.










BAB III
PENUTUP

A.           Kesimpulan
Psikologi perkembangan merupakan salah satu bidang psikologi yang memfokuskan kajian atau pembahasannya mengenai perubahan tingkah laku dan proses perkembangan dari masa konsepsi (para-natal) sampai mati.
Bahasa merupakan kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain, atau semua cara untuk berkomunikasi, dimana pikiran dan perasan dinyatakan dalam bentuk lambang atau simbol untuk mengungkapkan sesuatu pengertian, seperti dengan menggunakan lisan, tulisan, isyarat, bilangan, lukisan, dan mimik muka.
Moralitas menurut hakikatnya Penyelesaian konflik antara diri dan orang lain, antara hak dan kewajiban.
Jiwa beragama atau kesadaran beragama merujuk kepada aspek rohaniah individu yang berkaitan dengan keimanan kepada Allah yang direfleksikan kedalam peribadatan kepadanya  baik yang bersifat hablumminalloh maupun hablumminannas.

B.            Saran
Demikian makalah ini kami susun, kami sadar bahwa masih banyak kekurangan dan kesalahan, baik dalam segi penyampaian maupun penyusunan makalah ini. Maka dari itu, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan guna memperbaiki penyusunan makalah kami selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.










DAFTAR PUSTAKA

Syamsu yusuf LN, psikologi perkembangan anak & remaja, Bandung : Rosdakarya, 2011
Warni Djuwita, psikologi perkembangan, Mataram : LKIM Mataram, 2010
Arifin m,psikologi dan beberapa aspek kehidupan rohaniah manusia, Jakarta:bulan bintang, 1976
Aziz ahyani, Al-Qur’an dan psikologi agama, bandung : Martiana, 1981
Singgih D.gunarsa, psikologi perkembangan anak dan remaja, Jakarta : BPK Gunung mulia,1983
Warner, penny. Play & learn (150 Aktivitas Bermain dan belajar bersama anak), Jakarta : gramedia 2004


















KATA PENGANTAR
            Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan begitu banyak rahmat dan karunianya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Psikologi Perkembangan ini. Sholawat beserta salam kita haturkan kepada junjungan alam nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari alam jahiliah, alam kegelapan menuju alam manusiawi yang berakal.
            Penyusunan makalah ini tidak terlepas dari peran dosen pembimbing mata kuliah Psikologi Perkembangan, yang telah mengembangkan tugas ini dengan tujuan melatih dan menumbuhkan rasa kebersamaan dan kerja sama yang padu antara anggota kelompok. Kaitannya dengan yang di atas penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam penyusunan makalah ini. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan teman-teman sekalian. Amin





                                                                                    Mataram, Mei 2015


                                                                                                Penulis.







[1] Szanto, op.cit, hlm. 81.
[2] Santrock, op.cit hlm. 232
[3] Bruce, op.cit hlm. 232
[4] Hurlock, op.cit hlm.178-179

Tidak ada komentar:

Posting Komentar